Breaking News

Isu TKI Diharap Tak Buat Hubungan RI-Malaysia Renggang

Isu TKI Diharap Tak Buat Hubungan RI-Malaysia Renggang

Isu TKI Diharap Tak Buat Hubungan RI-Malaysia Renggang - Pihak kepolisian Filipina akhirnya membebasakan Pemimpin Redaksi Rappler, Maria Ressa, dengan jaminan. Penahanan Ressa memicu aksi protes setelah ia dituduh melakukan pencemaran nama baik. Para kritikus menilai penahanan Ressa adalah upaya pemerintah untuk menakut-nakuti wartawan.

Ressa ditangkap di kantornya pada Rabu lalu atas apa yang dikatakan oleh pengawas media sebagai tuduhan palsu yang ditujukan untuk mengintimidasi jurnalis menentang kekuasaan Presiden Rodrigo Duterte.

"Bagi saya ini tentang dua hal - penyalahgunaan kekuasaan dan persenjataan hukum," kata Ressa.

“Kamu harus mengekspresikan kemarahan dan melakukannya sekarang. Kebebasan pers bukan hanya tentang jurnalis. Kebebasan pers adalah dasar dari setiap hak tunggal dari setiap orang Filipina untuk kebenaran," katanya kepada wartawan setelah memposting uang jaminan USD 1.908) pada Kamis sore seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/2/2018).

Ressa dituduh memfitnah di dunia maya atas artikel Rappler pada 2012, yang diperbarui pada 2014, yang menghubungkan seorang pengusaha Filipina dengan pembunuhan, perdagangan manusia dan penyelundupan narkoba. Rappler mengutip informasi yang terkandung dalam laporan intelijen tahun 2002 tetapi tidak mengatakan lembaga mana yang menyusunnya.

Pengacara pengusaha mengatakan informasi itu salah, artikel itu memfitnah dan kliennya ingin membersihkan namanya.

Isu tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, khususnya yang terkait dengan kekerasan terhadap para TKI kerap membuat hubungan antara Indonesia dan Malaysia sedikit tegang dan renggang.

Menurut Abdul Jalil, Penasihat Eksekutif Editorial Sinar Harian, yang merupakan salah satu surat kabar terbesar di Malaysia, seharusnya isu ini tidak membuat hubungan Indonesia dan Malaysia menjadi renggang.

"Hubungan kita memang terkadang menjadi renggang, tapi kami tetap memerlukan TKI," ucap Abdul kepada rombongan jurnalis Indonesia yang melakukan kunjungan ke Malaysia pada Kamis (14/2).

Abdul mengatakan, para TKI sudah banyak membantu Malaysia sejak dahulu kala. Para TKI bekerja hampir di semua bidang, mulai dari pertanian, perindustrian, tekstil, dan juga menjadi asisten rumah tangga (ART).

Dia kemudian mengakui bahwa ART-nya adalah seorang TKI dan sudah bekerja untuknya selama kurang lebih 28 tahun. Abdul menyebut, TKI itu bernama Sumi dan berasal dari Semarang, Jawa Timur.

"Mbak Sumi ini sudah menjadi bagian dari keluarga saya. Bahkan, saya dan keluarga pernah dua hingga tiga kali ke kampung dia di Semarang," ungkap dia.

Terkait sejumlah kekerasan terhadap TKI di Malaysia, Abdul meyakini hal tersebut tidak mewakili mayoritas dari kondisi sebenarnya. Dirinya meyakini, para TKI sebagian besar diperlakukan layak di Malaysia.

"Kami sangat menentang kekerasan. Kasus kekerasan terhadap TKI di sini selalu diusut ke jalur hukum. Tapi, memang proses peradilan membutuhkan waktu," tukasnya.

Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian

Thanks for reading & have a nice day

No comments